
Berdiri di atas kaki sendiri berarti memanfaatkan potensi yang kita miliki. Tidak berbuat di atas kelebihan orang lain, karena setiap orang punya potensi yang berbeda-beda menurut kadarnya masing-masing. Masa punya kaki sendiri kok masih numpang di kaki orang lain? Terus, kalau cuma punya satu kaki gimana? itu tidak masalah. Bahkan yang tidak punya kaki pun bisa “berdiri” pakai tangan. Yang penting masih milik sendiri, kaki sendiri, atau tangan sendiri. Inilah prinsip menjadi diri sendiri.
Potensi adalah anugerah. Ketika tidak dipakai tentu saja mubazir. Enak kan punya kaki, bisa di buat main bola, jalan-jalan ke Masjid, nendang kaleng kosong di pinggir jalan, atau sekedar ongkang-ongkangan. Bersyukur punya kaki (baca; potensi) bukan hanya dengan mengucap hamdalah, lalu diam saja, fungsi kaki bukan untuk berdiri saja tetapi juga benar-benar memahami potensi utamanya.
Tatkala kita telah mampu berdiri di atas kaki sendiri, sayang rasanya kalau cuma berdiri. Berlarilah! Berjalanlah! Lompatlah! Atau apapun, yang penting menggunakan kaki itu semaksimal mungkin.
Penerapannya, tentu saja tidak hanya dalam batas individual. Prinsip ini bisa diterapkan dalam skala yang lebih luas. Sebut saja Indonesia, sebuah negara di pojok Asia Tenggara. Indonesia menurut kebanyakan orang adalah negara kaya, negara yang diapit dua samudera dan dua benua, keadaan menguntungkan ini mampu mengusik egoisme negara-negara imperelialis dan kolonialis mencicipi kekayaannya. Indonesia mungkin satu-satunya negara stategis di antara dua samudra dan dua benua, selainnya (baca; Indonesia) harus legowo berada di pinggir benua, betah di pinggir samudera, bahkan ada yang tidak diapit dua-duanya. Tetapi ironisnya negara-negara “pinggiran” tersebut kini sering diirikan Indonesia.
Inggris, negara maju itu hanya terletak di pojok Eropa. Jepang, negara sarat teknologi, adalah negara gersang. Singapura, negara yang luasnya secuil kota di Indonesia, kini adalah singa di kawasannya.
Indonesia memiliki tanah yang luas dan kekayaan alam yang melimpah. Sampai-sampai salah satu Syaikh Azhar yang sempat berkunjung ke Indonesia mengungkapkan kesan mendalamnya, “Indonesia qith’atun minal jannah allatî harabat min harasati Ridhwan.” Subhanallah… Potongan surga saja se-begitu kayanya. Jika demikian hebatnya kiasan Indonesia, lalu mengapa sampai saat ini Indonesia masih berdiri di atas kaki IMF? Lalu kenapa ketika ditimpa bencana kita biasa saja berdiri di atas kaki negara-negara donor yang murah hati? Bukankah kita dianugerahi sepasang kaki yang sehat dan kuat?
Benar, kaki kita adalah kaki yang sehat dan kuat. Akan tetapi kita senang memanjakannya, meluruskannya sepanjang hari di atas kasur empuk, tanpa pernah menggunakannya untuk berdiri sekalipun. Buat apa pakai kaki sendiri, toh masih ada kaki orang lain? Lebih baik numpang di kaki orang lain, praktis dan tidak capek.
Tapi jangan-jangan kita bukan cuma berdiri di atas kaki orang lain, melainkan tengkurap di bawah kaki orang lain. Bersedia menjadi alas kakinya tanpa pamrih. Orang lain yang numpang tidak hanya berdiri di atas kaki kita, tapi juga di atas badan kita, di atas kepala kita, dan di atas tangan kita.
Sudah, cerita di atas tak usah diteruskan, bikin tak genah saja. Lebih baik cuci kaki pakai sabun yang harum, dilap pakai handuk bersih, pakai kaos kaki dan sepatu, lalu lari pagi sambil berujar, “Bismillah…